• Ahlan Wa Sahlan

    Ahlan Wa Sahlan

    Selamat datang di ukmalislam.blogspot.com. Sebuah blog yang digarap oleh segenap mahasiswa di pesantren tinggi al-islam, bekasi.

    http://www.simplewpthemes.com/demo/poker/?p=250
  • Download Ceramah Gratis

    Download Ceramah

    Kajian Tematik berisi rekaman-rekaman kajian yang berhasil didokumentasikan oleh Studio Al-Islam di wilayah Jakarta dan Bekasi atau sekitarnya. Dengan cara ini, Anda yang tidak bisa hadir karena berhalangan atau berada di tempat yang jauh bisa mengikuti dan mendengarkannya.

    http://www.simplewpthemes.com/demo/poker/?p=248
  • Forum Diskusi Dan Tanya Jawab

    Forum Diskusi

    Berikut adalah tempat ngobrol untuk ikhwan semua, terkhusus mahasiswa pesantren tinggi Alislam. Silahan berikan partisipasi anda degna ikut andil menjadi member di halaman ini.

    http://www.simplewpthemes.com/demo/poker/?p=246
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Desember 2013

Posted by UKM Al-Islam 0 Comments Category: ,

Al-Qur’an dan Hari Akhir

Sungguh kiamat itu pasti datang. Nyaris Aku tidak merahasakannya kepadamu agar setiap orang mengetahui bahwa pada hari kiamat kelak, ia diberi balasan sesuai amalannya.” (QS. Thaha: 15)
Beriman kepada hari akhir adalah rukun iman ke-enam dari rangkaian rukun iman yang harus diyakini oleh setiap orang beriman. Seseorang tidak dikatakan beriman apabila menolak untuk mengimani keseluruhan rukun iman ini. Bila seseorang mengingkari salah satu rukun iman dari keenam rukun iman yang ada, maka batal seluruh imannya, termasuk iman kepada hari akhir.
Beriman kepada hari akhir adalah mempercayai dengan seyakin-yakinnya bahwa hari akhir itu akan datang dan mengamalkan semua konsekwensi yang ada. Termasuk mengimani adanya tanda-tanda sebelum datangnya hari kiamat tersebut, juga mengimani adanya kematian, serta apa yang terjadi sesudahnya berupa fitnah kubur, siksa dan kenikmatan yang ada didalamnya. Beriman dengan ditiupnya sangkakala, keluarnya semua makhluk dari kuburnya, kengerian dan kedahsyatan hari kiamat, mahsyar, dibukanya buku catatan amal, timbangan amal, jembatan shirat, telaga, dan lain sebagainya. Dan juga mengimani adanya surga dan segala kenikmatannya, dimana nikmat terbesarnya adalah melihat wajah Allah SWT. Demikian pula neraka dan siksanya, dimana siksa yang paling pedih adalah terhalangnya dari melihat wajah Allah SWT.
Al-Qur’anul karim banyak menyebutkan tentang peristiwa dan keadaan yang akan terjadi pada hari akhir, menekankan pada banyak tempat, dan selalu megingatkan tentangnya pada banyak kesempatan serta menyebutkannya dengan berbagai ungkapan dalam bahasa arab. Diantara perhatiannya adalah hari akhir selalu dikaitkan dengan beriman kepada Allah SWT. Seperti dalam firman Allah,
“Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS.Al-Baqarah : 232)
Termasuk bentuk perhatian al-Qur’an dengan hari akhir adalah dengan disebutkannya pada banyak tempat, tidaklah dalam satu muka dalam al-Qur’an kecuali akan disinggung permasalahan tentang hari akhir, tentang kedahsyatan peristiwa hari akhir, kengeriannya, dan peristiwa-peristiwa lain dengan berbagai ungkapan yang berbeda.
Dan diantara perhatiannya pula adalah hari akhir dinamai dengan bermacam-macam nama yang menunjukkan akan kebenarannya dan kepastian terjadinya, diantaranya adalah, al-Haqqah berarti yang benar-benar terjadi, al-Waqi’ah, yang pasti terjadi, al-Qiyamah, hari kiamat, dan lain sebagainya. Dan di antara nama-nama tersebut ada yang menunjukkan akan perihal kengerian yang akan terjadi pada hari akhir, seperti al-Ghasyiyah yang berarti hari pembalasan, ath-Thammah, malapetaka, ash-Shakhkhah, suara yang memekakkan dan al-Qari’ah, hari kiamat.
Termasuk nama hari akhir dalam al-Qur’an adalah yaumuddin, hari pembalasan, yaumul hisab, hari perhitungan, yaumul jam’i, hari pengumpulan, yaumul khulud, hari kekekalan, yaumul khuruj, hari keluar dari kubur, yaumul hasrah, hari penyesalan, dan yaumut tanad, hari panggil memanggil.
Adapun hikmah dari perhatian yang begitu besar akan hari akhir dalam al-Qur’an ini adalah, bahwasanya beriman kepada hari akhir mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam mengarahkan manusia untuk selalu meningkatkan kwalitas amal ibadah, membangun komitmen untuk beramal shalih dan juga untuk bertakwa dan bertawakal kepada Allah ta’aalaa.
Hikmah tersebut terlihat dari cara al-Qur’an yang Allah ta’aalaa sebutkan dengan dikaitkannya hari akhir dengan amal shalih dalam banyak tempat, diantaranya,
Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian” (QS. At-Taubah: 18)
Dan juga firman Allah,
“Dan ini (al Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan Kitab-Kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya.”  (QS. Al-An’am: 92)
Barangkali pula hikmah akan seringnya peringatan hari akhir adalah disebabkan seringnya manusia lalai dan lupa akan hari akhir, dan juga beratnya manusia berpisah dengan dunia, serta kecintaan mereka akan harta benda yang akan mereka tinggalkan di kemudian hari. Maka, beriman akan hari akhir dan terhadap apa yang ada di dalamnya dari siksaan, nikmat dan lain sebagainya akan mengurangi kecintaan seseorang akan dunia, berlebihan atasnya dan sebagai pendorong untuk berlomba-lomba melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Allah berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, Apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.(QS. At-Taubah : 38)
Dan tidak ada satupun keimanan yang bisa menghilangkan keberatan manusia terhadap urusan dunia setelah iman kepada Allah selain iman kepada hari akhir. Yaitu mengingat akan hilangnya harta yang dimiliki di dunia, hakikat harta benda di dunia adalah sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah SWT. Mengimani bahwa harta yang digunakan untuk beribadah di jalan Allah akan diganti dengan harta yang lebih baik, lebih bernilai, lebih kekal abadi. Dan disaat yang sama ia berkeyakinan bahwa setiap yang keluar dari perintah Allah dalam kehidupan dunia, dengan tujuan mencapai harta dunia yang fana, tentu kelak ia akan dibalas di akhirat dengan siksa yang pedih.
Ketika seseorang beriman kepada hari akhir, tentu ia yakin bahwa setiap kenikmatan yang ada di dunia tidak mungkin bisa dibandingkan dengan kenikmatan akhirat. Di sisi lain bahwa kenikmatan dunia itu tidak sebanding dengan siksaan di akhirat walau hanya sekejap saja. Dan setiap siksa di dunia karena mempertahankan agama Allah, sungguh tak bisa dibandingkan dengan kepedihan siksa di akhirat. Dan siksa itu tidak ada artinya sama sekali jika dibandingkan dengan kenikmatan di akhirat walau sekejap saja. Wallaahu a’lam. 
(Disadur dari kitab Muqarrar at-Tauhid karya Dr. Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdi Lathif, Beriman Kepada Hari Akhir).
Read more

Selasa, 18 Desember 2012

Posted by UKM Al-Islam 0 Comments Category: ,

MENGERASKAN BACAAN DALAM SHOLAT SUBUH DAN MEMBACA UNTUK JIN



MENGERASKAN BACAAN DALAM SHOLAT SUBUH DAN MEMBACA UNTUK JIN
Oleh : Andi, Indra, Obey

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ خَالِدٍ عَنْ أَبِي مَعْشَرٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ لَمْ أَكُنْ لَيْلَةَ الْجِنِّ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ مَعَهُ
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Khalid bin Abdullah dari Khalid dari Abu Ma'syar dari Ibrahim dari 'Alqamah dari Abdullah dia berkata, "Tidaklah aku berada pada malam jin (waktu belajarnya para jin) bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (melainkan) aku pasti ingin bersama beliau."
Takhrij hadits
1.      Shahih Muslim (kitab Sembilan) hadits nomer 683
2.      Fathul mun’im syarhu shohih muslim nomer 824, juz 2, hal 623
3.      penjelasan hadits dibawah ini dinukil dari hadits sebelumnya yang senada. Yaitu hadits nomer 819 dalam kitab Fathul mun’im syarhu shohih muslim
Biografi Rawi a’la ; Abdullah bin Mas’ud
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil al-Hudzali. Nama julukannya “Abu Abdirahman”. Ia sahabat ke enam yang paling dahulu masuk islam. Ia hijrah ke Habasyah dua kali, dan mengikut semua peperangan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Dalam perang Badar, Ia berhasil membunuh Abu Jahal.
Menurut para ahli hadits, kalau disebutkan “Abdullah” saja, yang dimaksudkan adalah Abdullah bin Mas’ud ini. Sanad paling shahih yang bersumber dari padanya ialah yang diriwayatkan oleh Suyan ats-Tsauri, dari Mansyur bin al-Mu’tamir, dari Ibrahi, dari alqamah. Sedangkan yang paling dlaif adalah yang diriwayatkan oleh Syuraik dari Abi Fazarah dari Abu Said. Ia meriwayatkan hadits dari Umar dan Sa’ad bin Mu’adz. Yang meriwayatkan hadits darinya adalah Al-Abadillah (“Empat orang yang bernama Abdullah”), Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, Abu Musa al-Asy’ari, Alqamah, Masruq, Syuraih al-Qadli, dan beberapa yang lain. Jumlah hadits yang ia riwayatkan mencapai 848 hadits.

Dalam soal harta, ia tak punya apa-apa, tentang perawakan ia kecil dan kurus, apalagi dalam seal pengaruh, maka derajatnya jauh di bawah ….Tapi sebagai ganti dari kemiskinannya itu, Islam telah memberinya bagian yang melimpah dan perolehan yang cukup dari pebendaharaan Kisra dan simpanan Kaisar. Dan sebagai imbalan dari tubuh yang kurus dan jasmani yang lemah, dianugerahi-Nya kemauan baja yang dapat menundukkan para adikara dan ikut mengambil bagian dalam merubah jalan sejarah. Dan untuk mengimbangi nasibnya yang tersia terlunta-lunta, Islam telah melimpahinya ilmu pengetahuan, kemuliaan serta ketetapan, yang menampilkannya sebagai salah seorang tokoh terkemuka dalam sejarah kemanusiaan.
Sungguh, tidak meleset kiranya pandangan jauh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau mengatakan kepadanya : “Kamu akan menjadi seorang pemuda terpelajar”. Ia telah diberi pelajaran oleh Tuhannya hingga menjadi faqih atau ahli hukum ummat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan tulang punggung para huffadh al-Quranul Karim .
Dan bukan hanya keunggulannya dalam al-Quran dan ilmu fiqih saja yang patut beroleh pujian, tetapi juga keunggulannya dalam keshalihan dan ketaqwaan. Beliau datang ke Medinah dan sakit disana kemudian wafat pada tahun 32 H dan dimakamkan di Baqi, Utsman bin ‘Affan ikut menshalatkannya.
Pendahuluan
            Jin adalah salah satu makhluk ciptaan Allah, mereka dapat melihat kita sedangkan kita tidak dapat melihat mereka. Di antara mereka ada yang muslim dan adil, ada juga yang membuat kerusakan di bumi. Iblis dan keturunannya memusuhi Adam dan selalu berusaha membawa mereka dalam kesesatan. Di antara trick mereka adalah dengan naik ke langit, berusaha mencuri dengar percakapan malaikat tentang urusan yang diberikan kepada mereka. Kemudian turun ke bumi dan membawa berita ghaib tersebut dan mencampur dengan berita berita dusta serta memberitahukannya kepada para dukun.
            Kemudian Allah mengutus Muhammad sebagai Nabi, sekaligus sebagai senjata dan perlindungan dari usaha kotor syaithon yang terkutuk dari mencuri kabar dari langit. Begitulah mereka selalu berusaha untuk menembus langit namun yang mereka dapati adalah rapatnya langit dengan penjaga dan adanya bintang yang akan dilemparkan kepada mereka. (Al Qur’an surat Al Jin ayat 8-9)
            Suatu ketika, Rasulullah melasanakan sholat subuh bersama sahabat sahabatnya di lembah Nakhlah antara Makkah dan Thoif. Beliau membaca Al Qur’an dan mengeraskan suaranya. Ternyata ada sekelompok jin yang mendengarkan bacaan beliau, mereka mendengarkan dengan baik baik dan seksama, mereka mengetahui banyak yang terkandung dalam Taurat dan Injil juga keistimewaan kalamullah. Maka sungguh apa yang mereka dengar pada hari itu bukanlah ucapan manusia, maka kemudian mereka beriman dengan kalamullah tersebut. (Al Ahqof 29-31) maka Allah menurunkan ayat kepada Nabi-Nya surat Al Jin ayat 1-2 untuk memberitahukan bahwa jin mendengar bacaan Qur’n nya.
Imam Muslim, menjelaskan bahwa hadits ini dimaksudkan sebagai pengambilan dalil untuk mengeraskan bacaan pada sholat shubuh, berdasarkan bahwa jin mendengarkan bacaan Rasul saat beliau melaksanakan sholat shubuh.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Nabi bersabda,”Aku diperintahkan untuk membacakan Al Qur’an kepada bangsa jin, siapakah di antara kalian yang hendak ikut bersamaku?” Maka para sahabat diam, Rasul bertanya kedua kalinya, mereka tetap diam, dan Rasul bertanya ketiga kalinya, maka Ibn Mas’ud berkata,”Aku berangkat bersamamu wahai Rasul.”  Maka bergegaslah hingga sampai di Jahun, dekat kaum Abu Dab yang di dalamnya terdapat makam ibunda Nabi Aminah binti Wahab. Rasul mendahuluiku satu langkah dan berkata, “jangan kau langkahi itu(kubur Ibu)!” kemudian beranjak menuju Jahun, maka beliau berjalan jinjit pada dataran landai. Mereka berhati hati terhadap batu batu di kaki mereka, berjalan sambil memukul rebana sebagaimanan wanita memukul rebana mereka. Sampai pada akhirnya mereka menghilang dan aku tidak melihatnya. Maka aku berdiri, dan beliau member isyarat dengan tangnnya agar aku duduk dan kemudian beliau membaca Al Qur’an. Suara beliau tetap nyaring, hingga mereka menempel pada bumi sampai aku tidak melihat mereka. Rasul bersabda,”apakah engkau ingin kemari?” “ya wahai rasul.” “mereka adalah jin yang dating untuk mendengarkan Al Qur’an, kemudian kembali kepada kaumnya untuk memberikan peringatan. Mereka meminta bekal, maka aku membekali mereka dengan tulang dan kotoran.
Pada saat shalat subuh, Rasulullah tidak memaksudkan bacaan Qur’an yang beliau keraskan untuk diperdengarkan kepada bangsa Jin, dan beliau tidak mengetahui bila bangsa jin me’ndengarkannya sebelum Allah memberitahukan hal tersebut.  Dan pada kesempatan berikutnya, Rasul menyengaja mendatangi mereka untuk membaca Al Qur’an. Rasul mengetahui mereka, mereka bertanya kepada beliau dan beliau menjawabnya.
Bangsa Jin datang dua kali menghadap Nabi Muhammad. Yang pertama di Makkah sebagaimana disebutkan ibn Mas’ud, yang kedua di Nakhlakh sebagaimana disebutkan Ibn Abbas. Ada beberapa hal menarik yang berkaitan dengan jin yang layak kita ketahui.
1.      Kebanyakan ahli filsafat, orang orang zindik, Qodariyah mengingkari keberadaan mereka. Sebagian mereka mengakui keberadaan mereka pada zaman dahulu, namun mengingkari keberadaannya pada saat ini. Sebagian yang lain mengakui keberadaan mereka namun menolak tentang adanya hubungan jin dengan manusia, pengaruhnya, dan gangguan bangsa jin kepada manusia. Namun kalangan Ahlu sunnah mengakui akan keberadaan mereka juga korelasinya dengan manusia.
2.      Terdapat perbedaan pandangan mengenai asalnya. Katanya, asalnya adalah anak iblis, yang kafir disebut syaiton, dan yang selainnya bukan syaithon. Allah menciptakan jin 2 ribu tahun sebelum Adam. Jin sebagai penghuni bumi, dan malaikat menghuni langit. Semua perkataan ini bersumber dari cerita isroiliyyat yang tidak dapat dijadikan sandaran
3.      Mengenai ciri ciri jin, Abu ya’la bin al Fara menyebutkan bahwa bangsa jin memiliki tubuh yang tersusun, kepribadian yang bermacam macam, bias lemah lembut, bias juga kasar. Imam Syafi’I berkata,”barangsiapa berasumsi bahwa dia menyaksikan jin, maka menurut kami, dia telah batal syahadatnya, kecuali para Nabi. Dan barangsiapa berasumsi melihat sesuatu dari mereka setelah berubah wujud, maka dia tidak tercela. Karena telah banyak berita tentang perubahan mereka kedalam wujud wujud tertentu.
4.      Bangsa jin juga makan dan minum, jin beriman makan tulang yang telah dibacakan nama Allah. Dan jin kafir memakan selain itu. Dan mereka juga menikah sebagaimana firman Allah dalam Surat Ar Rahman 56 dan Al Kahfi 50
5.      Bangsa Jin juga terkena taklif. Mereka terkena taklif dalam bidang tauhid dan rukun Islam. Adapun pada perkara perkara cabang, terdapat perselisihan pendapat di dalamnya.
6.      Tentang nabi dari bangsa jin, dapat ditelaah ayat al Qur’an dalam Surat Al An’am 130. Jumhur ulama’ menyebutkan bahwa pengertian Rusul dalam ayat tersebut adalah, Rasul dari bangsa manusia adalah Rasul dari sisi Allah. Adapun Rasul bangsa jin menurut jumhur ulama’ adalah rasul yang diutus Allah di bumi untuk mendengarkan ucapan Rasul bangsa manusia untuk kemudian disampaikan kepada kaumnya. Ibnu Hajar menetapkan hal itu dengan hadits yang jelas, “Adapun para Nabi diutus kepada kaumnya saja, maka aku diutus kepada bangsa manusia dan jin.”
7.      Dan apakah mereka juga mendapatkan balasan yang baik? Jumhur berpendapat bahwasannya mereka juga mendapatkan pahala atas amal kebaikan mereka. Adapun dalil yang menunjukkan bahwa mereka juga masuk surga di antaranya ; Al Ahqof 18, 19
8.      Bangsa jin, mencoba mencuri berita dari langit. Adapun penjagaan langit telah ada sebelum pengutusan Nabi Muhammad. Keberadaan meteor yang Nampak, tentu ada sebabnya, akan tetapi penggunaannya untuk melempar syaithon dan membakarnya belum terjadi sebelum pengutusan Nabi Muhammad. Ibnu Abbas berkata,”Dahulu syaithon tidak dihalangi untuk mencapai langit, ketika Nabi Isa lahir, sepertiga langit terhalang untuk mereka. Dan ketika Nabi kita Nabi Muhammad lahir, seluruh langit terhalang untuk mereka.
9.      Ringkasnya, penjagaan langit dan bintang yang dilemparkan belum benar benar diterapkan sebelum diutusnya Nabi Muhammad. Meteor pun belum digunakan keculai untuk perkara yang besar. Bilapun digunakan, frekuensinya rendah dan penggunaan meteor yang dibakar adalah setelah nubuwah.
10.  Penulis, Imam Muslim menyebutkan bahwa dirinya tidak dapat memutuskan hal hal tersebut di atas dengan akalnya, sedangkan perkara ghaib dan ta’wil adalah hal yang enak untuk diperbincangkan. Wallahu a’lam
11.  Bangsa jin beriman ketika mendengar bacaan Al Qur’an, maka bagi siapa saja yang beriman saat mendengarnya agar mengetahui kebenaran mu’jizatnya.
12.  Bagi iblis, golongan yang beriman hanya karena mendengar al Qur’an adalah golonganyang berada pada kedudukan paling buruk. Semisal kisah penyihir fir’aun
Tema dakwah
1.      Tauhid, perkara pokok yang senantiasa harus didakwahkan
2.      Dakwah kepada bangsa jin, satu yang paling mungkin dan secure adalah dengan nyaring membaca ayat al Qur’an
3.      Di antara adab sebelum makan adalah membaca bismillah
4.      Urgensi ilmu, masalah ghaibiyah adalah perkara yang mebutuhkan rujukan dalil yang kuat bila hendak memperbincangkannya. Hindari menggunakan asas menduga duga dalam hal ini.
Metode dakwah
Terdapat beberapa metode dakwah yang terkandung dalam hadits ini, juga hadits yang senada dengannya. Di antaranya ;
1.      Vocal, dengan membacakan ayat Al Qur’an. Terlepasa dari fakta bahwa Al Qur’an adalah mu’jizat terbesar, membacanya dengan jahr atau dengan mengeraskan suara adalah bentuk dari menyeru kepada bangsa jin.
2.      Offering, atau menawarkan sesuatu kepada objek dakwah. Dalam beberapa aspek kehidupan, ada hal hal kecil yang bersifat ringan namun esensinya agung, mudah diterima bila didakwahkan dengan cara ini. Sebagaimana tawaran Nabi kepada sahabatnya untuk menemani membaca Al Qur’an untuk bangsa jin. Dan sudah lazim bila penawaran tidak cukup berhasil bila dlakukan hanya sekali. Perlu beberapa kali untuk meyakinkan objek dakwah untuk menerima tawaran tersebut.
3.      Discuss, berbincang bincang. Ada beberapa hal yang akhirnya diketahui Nabi mengenai detail kecil bangsa jin, dan bangsa jin ketahui dari banyak hal yang mereka dapatkan dari bincang bincang dengan Nabi Muhammad. Maka perlu bagi para juru dakwah untuk menjalin keakraban dengan para objek dakwah dalam obrolan santai yang insya Allah dapat memudahkan mereka menyampaikan problema yang mereka alami untuk mendapatkan way out atau solusi tepat sesuai Qur’an dan sunnah. Yang mana problem tersebut, enggan atau tidak mungkin mereka ungkap dalam forum forum dakwah resmi.
Karasteristik  da’i
1.      Responsible, bertanggung jawab atas objek dakwahnya. Rasul mencontohkan bahwa beliau menjalankan mandate yang diberikan kepada beliau sebagai rasul bagi seluruh alam, bagai bangsa manusia, juga jin.
2.      Care, pengertian. Rasul memilih untuk melakukan penawaran kepada para sahabat untuk menemaninya. Beliau lakukan karena beliau ngerti keadaan dan kesibukan para sahabat. Oleh karena itu beliau tidak memaksakan dengan perintah dan titahnya, walaupun segala yang diperintahakan oleh Nabi, toh para sahabat akan meng iya kan dengan sepenuh hati dan tanggung jawab total.
3.      Fair and equitable, adil. Itulah karakter mulia yang Nabi ajarkan kepada umatnya. Saat beliau memberikan penawaran, beliau tidak memaksa. Saat yang menerima tawaran hanya seorang jua, Nabi kemudian tidak menggerutu, menampakkan aksen kesal kepada sahabat lainnya atau bahkan menyakiti perasaan mereka dengan ungkapan miring menyindir atau menabrak dengan menyebut nyebut pemberian dan jasa. Karena sifat penawaran adalah “yang mau saja”. Cukuplah penyesalan bagi orang yang enggan sebagai hukuman abstrak atas amal sholih yang terlewat percuma, tidak perlu ada komentar terlebih cacian.
4.      Curious, ingin tahu. Yang menjadikan manusia punya hasrat untuk survive adalah adanya rasa ingin tahu. Bagi seorang da’I, rasa ingi tahu yang kuat akan sangat membantu dakwahnya di samping juga memperluas wawasannya. Hal itu telah dicontohkan ibnu mas’ud dengan keikutsertaannya menemani nabi berdakwah kepada bangsa jin. Kondisi ini juga menunjukkan bahwa da’I harus selalu punya semangat untuk maju, to be better than anyone else.
5.      Enthusiasm,  ketertarikan yang kuat dalam ilmu pengetahuan islam, satu sisi penting dari banyak aspek yang sudah selayaknya dimiliki da’i. bangsa jin saja bersemangat mencari kebenaran, maka sudah selayaknya para dai untuk lebih bersemangat karena posisinya sebagai pembawa kebenaran.
6.      Jujur, baik hati dan tidak sombong, tidak boros serta suka menolong
Sebagai epilog, ada baiknya bila berisi seruan untuk senantiasa bertaqwa dan bertawakkal kepada Allah. Menambah semangat dalam menuntu ilmu dan mengamalkannya. Serta menambah kepekaan dan tanggung jawab dalam mendakwahkan Islam dan ajarannya kepada seluruh alam. Meliputi bangsa manusia dengan menerapkan metode yang beragam dan selalu berkembang, dan kepada bangsa jin dengan metode yang ada dengan tetap sesuai dengan yang digariskan Allah dan Rasul Nya serta senantiasa memohon taufiq, perlindungan dan pertolongan-Nya. Wallahu a’lam bish showab.

Referensi
1.      Fathul Mun’im syarhu Shohih Muslim, DR Musa Syahin
2.      Jami’ul bayan fii Ta’wiilil Qur’an, Abu Ja’far Ath Thobari
3.      Al-Ishabah: Ibn Hajar Asqalani no.4945.
Read more

Jumat, 23 November 2012

Posted by UKM Al-Islam 0 Comments Category:

“Istighotsah Dan Berdoa Kepada Selain Alloh SWT Adalah Syirik”


Oleh :Nanang Imam Syafi’i
Ma’had Aly Al_Islam

“Istighotsah Dan Berdoa Kepada Selain Alloh SWT Adalah Syirik”

1.   DEFINISI
Syaikhul islam berkata : “makna istighotsah adalah tholabul ghouts (meminta pertolongan)dalam rangka menghilangkan kesulitan.
Ulama yang lain mengatakan, perbedaan kata istighotsah dan do’a adalah : istighotsah dilakukan dalam rangka meminta diselamatkan dari suatu musibah, sedangkan do’a maknanya lebih umum, karena do’a mencangkup permohonan selamat atau untuk selainnya. Jadi setiap istighotsah adalah do’a dan bukan setiap do’a adalah istighotsah.
Adapun do’a ada 2 macam yakni : do’a sebagai ibadah dan do’a sebagai permohonan.  Ketika kata do’a disebut dalam alquran, maka terkadang memilki makna pertama dan juga terkadang memilki makna kedua. Syaikhul islam ibnu taimiyyah berkata : “setiap doa ibadah pasti mengandung do’a permohonan, dan setiap do’a permohonan mengandung unsur do’a ibadah, Alloh SWT berfirman :“berDo’alah kepada robb kamu dengan berendah diri dan suara  yang lembut, sesungguhnya Alloh SWT tidak menyukai orang orang yang melampaaui batas” (QS. Al A’raaf 7:55)” juga dalam firmannya QS. An an’am 6:40-41, QS. Al jin 72:18, QS. Ar-ra’d 13:14, dan lain lain berupa ayat semisalnya di dalam alquran. Yang pada intinya adalah mengharuskan kepada kaum muslimin agar hanya berdoa kepada Alloh SWT.

2.   BERDOA DAN ISTIGHOTSAH ADALAH IBADAH
Firman Alloh SWT Dalam al quran surat Al A’raaf 7:55 alloh swt berfirman : “berdoalah kepada robbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang orang yang melampaui batas”  ayat ini merupakan sebuah anjuran untuk berdoa, jadi pelaksanaannya adalah ibadah. Ini juga sebagaimana diterangkan dalam firmannya yakni : (QS. yunus 10:106) (QS. Yunus 10:107) (QS. Al ankabuut 29:17) (QS. Al ahqaaf 46:5-6) (QS. An-naml 27:62) Karenanya jika ibdadah tersebut dialihkan keada selain Alloh SWT, maka orang tersebut adalah musyrik.
Alloh SWT SWT berfirman : “katakanlah : hanya Alloh SWT saja yang kau sembah dengan memurnikan ketaan kepadaNya dalam menjalankan agamaku.” Qs. Az-zumar 39:14. Begitu pula dengan istighotsah pun demikian. Haruslah di niatkan hanya kepada Alloh SWT. Namun pembahasaan ini menjadi panjang ketika banyak dikalangan kaum muslimin yang tidak tahu tentang beristighotsah yang benar dan sesuai syari’at. Berikut adalah hasil dari  kajian kitab fathul majid berkeaan tentang hukum istighotsah.

3.   MACAM DAN HUKUM BERISTIGHOTSAH

a.      Beristighotsah (meminta pertolongan) kepada Alloh SWT
Hal ini tentunya disyari’atkan dalam alqur’an dan asunnah, bahwa pada hakikatnya manusia hanyalah boleh meminta pertolongan kepada Alloh SWT saja, sebagai penyebab akan hilangnya masalah yang dihadapi.
Alloh SWT berfirman :
(#qãã÷Š$# öNä3­/u %YæŽ|Øn@ ºpuŠøÿäzur 4 ¼çm¯RÎ) Ÿw =Ïtä šúïÏtF÷èßJø9$# ÇÎÎÈ
55.  Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas[549].

berdo’alah kepada robb kamu dengan berendah diri dan suara  yang lembut, sesungguhnya Alloh SWT tidak menyukai orang orang yang melampaui batas” (QS. Al A’raaf 7:55)”
hanya Alloh SWT saja yang kau sembah dengan memurnikan ketaan kepadaNya dalam menjalankan agamaku.” Qs. Az-zumar 39:14
b.      Istighotsah kepada selain Alloh dengan keyakinan bahwa yang  dimintai tolong mampu mendatangkan manfaat dan madhorot.
Perkara ini tentunya adalah harom, dan bagi yang melasanakannya adalah orang yang musyrik. karena mengadakan bagi Alloh SWT tandingan taningan. Sedang Alloh SWT berfirman :”katakanlah: mengapa kamu menyembah selain dari pada Alloh SWT, sesuatu yang tidak dapat memberikan mudhorot kepadamu dan tidak pula member manfaat’. Dan Alloh SWTlah yang maha mendengar lagi maha mengetahui.” QS. Almaidah 5:76 dan juga tertera dalam QS. Al an’am QS. Yunus 10:106, dll.
c.       Beristighotsah kepada orang yang hidup.
Hukum asalnya adalah diperbolehkan, ini sebagai mana perkataan Islam Ibnu Taimiyyah: “Dan makhluk (orang yang hidup) boleh dimintai yang demikian (bantuan) selama dalam batas yang dia mampu…, sebagaimana firman Allah  :

فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ

“Maka laki-laki dari kaumnya meminta bantuan kepadanya (Musa) tuk menghadapi musuh”. (QS. Al Qashash : 15) [1]
Dan firman Alloh SWT SWT :
“dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan” al maidah :2
namun para ulama juga menjelaskan berbagai aspek yag harus diperhatikan ketika meminta tolong kepada orng yang masih hidup, berikut aspek yang ahrus diperhatikan :
1.      diperbolehkan selama ia masih menjaga tauhid dan berkeyakinan yang dimintai tolong adalah sebab dan tidak  memberikan pengaruh secara langsung untuk menghilangkan kesulitan yang ada, tanpa meyakini bahwa yang dimintai tolong mampu mendatangkakn madhorot dan manfaat.[2] Ini sebagai mana Alloh SWT berfirman :”katakanlah: mengapa kamu menyembah selain dari pada Alloh SWT, sesuatu yang tidak dapat memberikan mudhorot kepadamu dan tidak pula member manfaat’. Dan Alloh SWTlah yang maha mendengar lagi maha mengetahui.” QS. Almaidah 5:76 . Di samping itu dalam meminta pertolongan atau bantuan tidak boleh ada unsur puncak kecintaan dan perendahan diri terhadap yang dimintai pertolongan atau bantuan tersebut, karena yang demikian itu adalah ibadah, harus diperuntukkan kepada Allah semata.[3]
2.      Yang dimintai tolong yaitu yang dimintai tolong adalah orang yang hidup, hadir (ada di hadapannya), mampu untuk memberikan bantuan yang diminta, dan mendengar permintaan orang yang meminta. (dalam hal ini adalah ayng dimintai tolong juga terjangkau oleh kita, baik berupa jangkauannya dengan handphone, internet, dll)[4]
3.      Hendaknya yang dimintai tolong itu mampu, ini sebagaimana perkataan ibnu taimiyyah diatas “Dan makhluk (orang yang hidup) boleh dimintai yang demikian (bantuan) selama dalam batas yang dia mampu…,”[5]
Sedangkan beristighotsah kepada orang yang hidup tetapi tidak mampu dan dia yakin bahwa orang yang dimintai tolong tidak memiliki kekuatan rahasia (tersembunyi) adalah dilarang. Hal ini juga dipaparkan oleh syaikh fauzan dalam kitabuttauhid bahwa istighiotsah kepada manusia yang tidak mampu kecuali Alloh SWT adalah tidak diperbolehkan, seperti “hanya dia yang bisa menyembuhkan penyakit”, menghilangkan kesusahan, dan menolak bahaya, dan ini termasuk syirik besar.[6] Kita contohkan orang yang akan tenggelam meminta tolong kepada orang yang lumpuh dan sebagainya. yang demikian ini dilarang karena merupakan kesia-siaan dan pelecehan kepada orang yang dimintai tolong. Juga dikarenakan akan menimbulkan sangkaan kepada orang lain bahwa orang yang lumpuh tersebut memiliki kekuatan tersendiri sehingga bisa menolong orang lain dari bencana yang dihadapinya.
Ringkasnya adalah ketika kita meminta bantuan kepada orang lain maka harus memperhatikan :
Ø  Tauhid
Ø  Orng yang dimintai tolong adalah orang yang hidup, hadir (ada di hadapannya), mampu untuk memberikan bantuan yang diminta, dan mendengar permintaan orang yang meminta.
 Maka dalam hal ini perlu sekali kewaspadaan kita dalam meminta pertolongan kepada orang lain, jangan sampai apa yang kita lakukan berbuah sebuah pelanggaran syari’at yang telah Rosululloh sampaiikan kepada ummatnya.
d.      Berdo’a/beristighotsah kepada orang yang telah meninggal dunia
Yang seperti I ni adalah salah satu dari kemusyrikan.
Al Imam Ibnul Qoyyim berkata : “Di antara jenis-jenis kesyirikan adalah meminta berbagai macam kebutuhan kepada orang yang sudah meninggal, beritighotsah kepada mereka dan mendekatkan diri kepada mereka. Dan inilah asal dari kesyirikan yang terjadi di alam semesta. Sebab orang yang telah mati telah terputus amalnya dant idak memiliki manfaat bagi dirinya snditi apaliagi member manfaan kepada  orang yang meminta pertolongan dan meminta syafa’at melaluinya kepada Alloh SWT.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah berkata : Dan tidak boleh bagi seseorang meminta pertolongan kepada orang-orang soleh yang tidak ada (tidak hadir dihadapannya meskipun masih hidup- ed) dan tidak pula kepada orang-orang yang telah mati, sebagai contoh perkataan seperti ini : Wahai Tuanku -Fulan- tolonglah! bantulah aku, bela-lah aku dan aku sangat bergantung kepadamu! Dan perkataan semisalnya.
Dan argument dari pernyataan ini adalah hadits nabi SAW yang mengatakan bahwa “pabila anak adam telah meninggal, maka amalannya terputus, kecuali tiga perkara : shodaqoh jariyyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa seorang anak yang sholih kepada bapak ibunya”

4.   BEBERAPA SYUBHAT YANG TERJADI
Istighotsah marak diamalkan sekelompok umat Islam di Indoensia, istilah ini sering terdegnar ditelinga manusia. Ketika undangan berlabel “istighotsah” dibagikan kepada kaum muslimin  untuk dihadiri, kemudian pak lebai atau kyai kyai menjadi promotor Istighotsah, mengisyaratkan istighosah adalah suatu ajaran yang tidak boleh tidak harus di amalkan oleh umat Islam. Yakni ketika istighotsah ini sangat mudah dan sering dilakukan, kita tahu baru baru ini, ketika final piala AVV, ummat muslim Indonesia diundang  dalam sebuah acara “istighotsah” kemudian ada didalamnya ritual ritual yang seolah olah harus dilaksanakan dalam proses istighotsah.
Pertanyaannya:
Apakah benar Rosululloh menuntun ajaran istighotsah yang seperti ini?
Apakah benar ini adalah syari’at yang dilaksanakan juga oleh rosul dan para sahabat?
Jawabannya:
Tidak demikian, fenomena istighotsah secara berjama’ah  yang ada diindonesia ini tidaklah ada dalil yang menuntun untuk itu.
kita harus tahu bagaimana Rosululloh meminta pertolongan kepada Alloh ketika beliau dalam kesulitan,  dijelaskan di dalam tafsir ibnu katsir ketika Rosululloh dalam kesulilatan yang sangat pada waktu awal perang badar, Rosululloh memandang kedepan dan melihat musuh lebih dari 1000 lebih dan pasukan kaum muslimin ketika itu 300 lebih. Perilaku rosul ketika itu tidaklah menyuruh para sahabat untuk berkumpul kemudian berdoa dengan di wakili oleh nabi kemudian diamini oleh para sahabat, namun Rosululloh seketika itu langsung menghadap kiblat dan berdoa meminta pertolongan kepada Alloh untuk dimenangkan
" اللهم أين ما وعدتني، اللهم أنجز لي ما وعدتني، اللهم إن تهلك هذه العصابة من أهل الإسلام فلا تعبد في الأرض أبدا"
begitulah rosul mengajarkan.[7] Dan tidaklah ia pernah beristighotsah dengan mengundang para sahabat untuk pengkhususan dalam amalan ini.
Bahkan rosul bersabda :
وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعُوا عَلى أَنْ يَنْفَعُوك بِشَيءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيءٍ قَّدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ
“Ketahuilah, kalau seandainya umat ini bersatu padu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan bisa mendatangkan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah bagimu”. (HR. Ahmad dan At Tirmidzi).

Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “Istighotsah adalah permintaan bantuan agar musibah (bencana) yang dihadapinya bisa hilang.[8] sedangkan istighotsah yang terkenal dikalangan kita adalah berbagai kepentingan kelompok atau perorangan atau pada acara cara kampanye partai yang dilakukan dengan motivasi jabatan atau tahta, bahkan menjadi alat kekuasaan dalam rangka menangkal lawan politiknya.

5.   BAHAYA DARI PERBUATAN SYIRIK DALAM ISTIGHOTSAH
Tafsiran Al quran surat yunus 106
a)      Memohon kepada selain Alloh SWT adalah syirik akbar.
b)      Bahwa orang paling sholih sekalipun, kalau melaukan perbuatan ini (syirik), maka ia termasuk golongan orang yang dzolom (musyrikin)
Tafsiran surat yunus ayat 107
c)      Memohon kepada selain alloh tidak akan mendatangkan manfaat duniawi, dan perbuatan itu sendiri merupakan kekafiran
Tafsiran surat al ankabut ayat 29
d)     Tiada yang lebih sesat dari pada orang yang memohon kepada sesembahan selain Alloh
e)      Permohonan itulah yang menyebabkan sesembahan selain alloh membenci dan memusuhi orang yang memohon kepadanya (pada hari kiamat)
f)       Sesembahan selain alloh itu, nanti pada hari kiamat akan mengingkari ibadah kepada sesembahan selain alloh
g)      Permohonan inilah yang menyebabkan orang menjadi paling sesat.

6.   KESIMPULAN

Dari pemaparan diatas, sudah kita pahami bahwa istighotsah hanyalah kepada Alloh SWT, dan kepada selainnya adalah syirik. Adapun diperbolehkan kepada orang hidup dengan syarat syarat yang telah disebutkan diatas. Dan harusnya kita tetap menjaga I’tiqod kita bahwa satu satunya yang berhak dan bisa mendatangkan manfaat dan madhorot hanyalah Alloh SWT semata, sedangkan selainnya hanyalah sebuah washilah.
Dan patut bagi kita semuanya untuk selalu meniru khudwah hasanah kita dalam setiap amalan, agar kita tidak masuk dalam jurang kebid’ahan yang semakin dhohir rupanya dihadapan kita.

Dinukil dari fathul majid karya syaikh abu rahman alu syaikh

Refernsi :
·         Fathu majid karya syaikh abu rahman hasan alu syaikh
·         Majmu’ Fatawa, oleh ibnu taimiyyah
·         Tafsir ibnu katsir, maktabah syamilah
·         Kitabuttauhid oleh syaikh fauzan bin abdillah al fauzan (terjemahan)



[1] (Majmu’ Fatawa juz 1, hal. 104)
[2] Fathul majid syaikh ibnu hajjar al ‘atsqolani
[4] ibid
[5] Majmu’ Fatawa juz 1, hal. 104
[6] Kitabuttauhid oleh syaikh fauzan bin abdillah al fauzan (terjemahan) hal 90
[7] Tafsir ibnu katsir, maktabah syamilah juz 4 hal 18
[8] (Majmu’ Fatawa Juz 1, hal. 103),
Read more