• Ahlan Wa Sahlan

    Ahlan Wa Sahlan

    Selamat datang di ukmalislam.blogspot.com. Sebuah blog yang digarap oleh segenap mahasiswa di pesantren tinggi al-islam, bekasi.

    http://www.simplewpthemes.com/demo/poker/?p=250
  • Download Ceramah Gratis

    Download Ceramah

    Kajian Tematik berisi rekaman-rekaman kajian yang berhasil didokumentasikan oleh Studio Al-Islam di wilayah Jakarta dan Bekasi atau sekitarnya. Dengan cara ini, Anda yang tidak bisa hadir karena berhalangan atau berada di tempat yang jauh bisa mengikuti dan mendengarkannya.

    http://www.simplewpthemes.com/demo/poker/?p=248
  • Forum Diskusi Dan Tanya Jawab

    Forum Diskusi

    Berikut adalah tempat ngobrol untuk ikhwan semua, terkhusus mahasiswa pesantren tinggi Alislam. Silahan berikan partisipasi anda degna ikut andil menjadi member di halaman ini.

    http://www.simplewpthemes.com/demo/poker/?p=246
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Desember 2012

Posted by UKM Al-Islam 0 Comments Category:

BIRRUL WALIDAIN

BIRRUL WALIDAIN

حدثنا آدم: حدثنا شعبة: حدثنا حبيب بن أبي ثابت قال: "سمعت أبا العباس الشاعر - وكان لا يتهم في حديثه - قال: سمعت عبد الله بن عمرو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يقول: «جاء رجل إلى النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يستأذنه في الجهاد فقال: "أحي والداك؟ " قال: نعم. قال: "ففيهما فجاهد». وفي رواية: ". . «قال رجل للنبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أجاهد؛ قال: "ألك أبوان؟ " قال: نعم. قال: "ففيهما فجاهد»

Telah bercerita kepada kami Adam telah bercerita kepada kami Syu'bah telah bercerita kepada kami Habib bin Abi Tsabit berkata aku mendengar Abu Al 'Abbas Asy-Sya'ir, dia adalah orang yang tidak buruk dalam hadits-hadits yang diriwayatkannya, berkata aku mendengar 'Abdullah bin 'Amru radliallahu 'anhuma berkata: "Datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu meminta izin untuk ikut berjihad. Maka Beliau bertanya, ‘Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ Laki-laki itu menjawab, ‘Iya’. Maka Beliau berkata, ‘Kepada keduanyalah kamu berjihad (berbakti)’.”
Takhrij hadits
Bukhori : hadits ke 3004, bab berjihad dengan izin orang tua nomer 5972
Muslim : bab kebaikan, hubungan dan adab, bab  berbakti kepada orang tua nomer 2549
Biografi sanad awal
Abdullah bin Amru bin Ash bin Wail. Imam yang sholih lagi alim. Seorang sahabat Rasulullah dan anak sahabat Beliau. Disebutkan bahwa dia masuk Islam lebih awal dari bapak nya. Nama aslinya adalah al ‘Ash maka ketika dia masuk Islam Rasulullah mengganti namanya menjadi Abdullah. Dia mewarisi ilmu yang sangat banyak dan meriwayatkan banyak hadits dari nabi Muhammad SAW. Menjadi awal sanad atas 700 hadits. Bukhori dan Muslim sepakat mentakhrij 700 hadits. Bukhori pribadi menyepakati 800 hadits, sedang Muslim hanya 20 hadits. Dalam musnad terdapat 626 haditsnya. Abdullah bin Amru adalah seorang hamba yang menyeru kepada jalan Allah dengan menukil hadits dari Rasulullah dan menyampaikannya kepada umat manusia. Dia adalah contoh yang baik bagi muslimin, berpuasa sehari dan berbuka sehari, mengkhatamkan Al Qur’an dalam seminggu bahkan dalam 3 hari. Rajin melaksanakan qiyamullail dan amalan berbarokah. Jarak umur nya dengan ayahnya hanyalah 12 tahun. Dia adalah orang yang paling banyak mengambil hadits dari Rasulullah. Abu Hurairah berkata tentangnya, “Tidak ada seorangpun yang meriwayatkan hadits lebih banyak dariku melainkan Abdullah bin Amru, dikarenakan dia menulis hadits tersebut sedangkan aku tidak.” Adapun sedikitnya periwayatan dari hadits yang dia dapatkan dikarenakan Dia tinggal di Mesir, sehingga sedikit orang yang mengambil hadits darinya. Berbeda dengan Abu Hurairah yang menetap di madinah dan menjadi rujukan kaum muslimin dari segala penjuru. Dia meninggal tahun 63 hijriyah. Ada yang mengatakan tahun 65 dan 68 atau 69 H dalam umur 72 tahun. (Siyar A’lamin Nubala’ 3/79-95)


Penjelasan hadits
Pentingnya bermusyawarah dengan pemimpin atau ulama atau dai
Besarnya peranan pemimpin, ulama dan da’I secara nyata dalam urusan dunyawi dan ukhrowi. Di antara yang menjelaskan hal ini adalah sikap lelaki yang datang kepada Rasulullah untuk meminta izin berjihad dan meminta pendapat. Rasul menanyakan apakah pemuda memiliki orang tua yang masih hidup, karena sang pemuda masih memilki orang tua, Rasul memerintahkan untuk kembali dan berbakti kepada keduanya. Itulah jihad pemuda tersebut. Di sinilah tampak begitu penting dan besarnya fungsi musyawarah. Karena yang dimintai pendapat adalah orang yang terpercaya maka sudah selazimnya Rasul memberi arahan atau keputusan dengan nasehat yang tulus. Maka sudah selayaknya bagi setiap da’i untuk memilih bermusyawarah sebagai solusi cepat untuk mendapatkan berbagai manfaat dan mencegah keburukan dan memperoleh tambahan kebaikan. Begitulah yang terjadi kepada pemuda yang mendapatkan keputusan yang lebih utama dari permintaannya berjihad dengan musyawarah. Sebagai penegas akan pentingnya musyawarah bahwa pribadi yang berakal tidak egois dengan pendapatnya sendiri dalam memutuskan perkara perkara penting, kecuali setelah meminta pendapat dari orang orang yang lebih kompeten dalam perkara terkait. Maka penting bagi da’I konsultan untuk mengerti dan mencari tahu kondisi object dakwahnya. Mengedepankan kepadanya keputusan yang baik. Imam ibn Abi Hamzah berkata, ”Ada dasar bahwa konsultan bertanya tentang kondisi penanya sehingga dia mengetahuinya dan dapat memberikan keputusan paling baik berkaitan dengan haknya.” Karena Nabi Muhammad ketika dimintai pendapat tentang sahabatnya agar berangkat berjihad atau tidak. Bertanyalah Nabi tentang ahwalnya sehingga Nabi tahu akan haknya yang paling utama dan memberi arahan sesuai keadaannya
Antusiasme sahabat dalam berjihad di jalan Allah
Sesungguhnya sahabat adalah sebaik baik manusia dalam akhlaq dan antusiasme dalam berbuat baik dan mencintai segala yang di sisi Allah. maka dari itu datanglah sahabat ini kepada nabi meminta izin untuk diikutsertakan dalam berjihad  dengan pernyataannya, “Apakah akau boleh berjihad?” Ini menunjukkan semangat sahabat untuk melaksanakan hal yang paling utama. Ibnu Hajar pernah menjelaskan bahwa pemuda ini memisahkan yang paling utama dalam ketaatan untuk dikerjakan, karena dia mendengarkan keutamaan jihad dan bersegera kepadanya, namun belum cukup puas sampai meminta izin dahulu. Maka Rasul menunjukkan yang lebih utama hakikatnya dari jihad tersebut. Sudah selayaknya bagi tiap muslim terutama para da’I di jalan Allah untuk senantiasa bersemangat selalu dalam melaksanakan ketaatan  sampai datang ketetapan Allah kepadanya.
Perlunya bertanya tentang keadaan madh’u mengenai hal hal yang belum jelas
Pertanyaan mengenai hal hal yang masih bias dalam urusan agama adalah perkara yang penting. Karena bertanya merupakan pintu ilmu dan pengetahuan bagi manusia . Disebutkan dan Ibnu Hajar berkomentar dalam hadits ini , “Andai tidak ada pertanyaan dari sahabat tersebut tentulah tidak akan ada ilmu mengenai hal tersebut.” Maka sudah seharusnya bagi pribadi muslim untuk bertanya tenang hal hal yang masih belum ia mengerti sehingga dia mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan hilanglah kejahilan yang ada padanya.
Di antara metode dakwah
Tanya jawab
Tidak diragukan lagi bahwa di antara cara penyampaian yang penting  dalam dakwah adalah metode ini.  Untuk para da’I maka hendaklah menanyakan kepada sebagian sasaran dakwahnya untuk menggali informasi dari mereka dan memberikan tanggapan yang benar sebagaimana telah dicontohkan Nabi. Banyak bertanya menyebabakan tergalinya informasi dan data yang pastinya membantu. Dan dengan banyak mendengarkan akan menambah bijak dalam mengambil pertimbangan.
Memberi kabar gembira
Metode dakwah lainnya adalah dengan memberikan kabar gembira. Sesungguhya memberikan kabar gembira adalah cara yang penting yang mampu menyentuh hati para objek dakwah. Telah terbukti cara ini dalam perkataan Rasulullah kepada sahabatnya, “Apakah orang tuamu masih hidup?” dan memerintahkannya untuk berbakti. Menunjukkan keutamaan berbakti kepada orang tua dan lebih utama dari jihad sunnah di jalan Allah . Ibnu Hajar berkata, “Dalam hadits ini disebutkan keutamaan berbakti kepada orang tua, memenuhi hak hak mereka dan banyaknya pahala.” Maka semakin jelaslah bagi para da’i akan pentingnya memberitakan kabar gembira dan dampaknya.
Di antara tema dakwah : seruan untuk berbakti kepada orang tua
Dorongan untuk berbakti kepada mereka adalah hal yang sangatlah penting, pengorbanan terbesar dan karena kepentingan yang agung itulah nabi Muhammad bertanya kepada sahabat nya, “Apakah kau memiliki orang tua yang masih hidup?”. Berkata Ibnu Hajar, “Jika engkau memiliki kedua orang tua maka beralihlah fungsi jihadmu menjadi bentuk berbakti dan berbuat baik kepada keduanya karena itu sudah masuk kategori jihad.” Maksud dari berjihad kepada orang tua adalah = mengerahkan segenap kesungguhan, kesempatan, dan daya upaya dalam aplikasi berbuat baik kepada kepada keduanya. Atas kepentingan tersebut , ulama menjelaskan bahwa tidak diperbolehkan berangkat berjihad kecuali dengan rekomendasi atau izin dari keduanya bila memang kedua orangtuanya muslim. Karena hukum berbakti kepada keduanya adalah fardhu ‘ain, sedangkan berjihad / perang di jalan Allah adalah fardhu kifayah. Namun jika hukum jihad menjadi fardhu ‘ain maka tidaklah perlu izin, karena jihad menjadi wajib bagi semuanya dalam keadaan diperintahkan pemimpin, ataupun serangan musuh .
Berbakti kepada orang tua adalah kewajiaban bagi tiap muslim muslimah. Itulah ketaatan terbesar dan kewajiban paling utama karena banyaknya keadilan dari nya.
Allah menyandingkan hak orang tua dan berbuat baik kepada keduanya dengan ibadah kepadaNya sebagaiman Allah menyandingkan sikap syukur kepada kedua orang tua dengan sikap syukur kepada Allah. Allah telah menjadikan orang tua sebagai wasilah terbentuknya anak. Dan ini menunjukkan secara tegas akan hak keduanya beserta sikap berbuat baik kepada keduanya dalam ucapan dan perbuatan.  Pada mereka berdualah cinta yang dalam kepada sang anak saat masih kecil dan lemah. Maka kewajian anak adalah menunaikan hak mereka, berbuat baik. Larangan bagi anak menyakiti mereka pada tingkatan paling remeh sekalipun,  berupa keengganan melayani mereka, menyakiti atau mencela mereka dengan mengangkat suara ataupun menunjuk nunjuk mereka. 
Berbakti kepada kedua orang tua adalah sebaik baik amal kedua setelah sholat berjama’ah yang merupakan urusan pokok dalam Islam. Rasulullah mengabarkan hal tersebut dan menyusun berurutan dengan kata sambung “kemudian”. Diriwayatkan dari Abdullah ibn Mas’ud, ”Aku bertanya kepada Rasulullah amal apakah yang paling utama ?” Rasul menjawab, ‘Sholat pada waktunya.’ Aku berkata, ‘kemudian apa?’ Beliau bersabda, ‘Birrul walidain.’ Aku berkata, ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda, “Jihad di jalan Allah.” ( متفق عليه: البخاري برقم، 527، ومسلم برقم 85، وتقدم تخريجه في الحديث رقم 19، الدرس الثالث، ص 168.)
Ridho Allah berada pada Ridho orang tua, dan kemurkaan Allah ada pada murka orang Tua
Berbakti kepada orang tua memasukkan ke dalam surga. Maka dari Abi darda’ aku mendengar Rasulullah bersabda, “Ibu adalah pertengahan pintu surga, maka jika kau mau, biarkan pintu itu atau jagalah.” Dari mu’awiyah bin jahimah, bahwa Jahimah datang kepada nabi dan berkata, “Ya Rasul Allah aku ingin berangkat berperang. Dan aku mendatangimu hendak meminta pendapat.” Maka Rasul bertanya, “Apakah kau memiliki ibu?” Maka dia menjawab, “Ya.” Rasul bersabda, “Maka jagalah dia. Sesungguhnya syurga itu ada di bawah kedua telapak kakinya.” ( أحمد في المسند، 3 / 429 )
Rasulullah berdoa atas orang yang belum pernah berbakti kepada kedua orang tuanya. Dari Abu Hurairoh berkata, Rasulullah bersabda, ”Raghma anfuhu 3x.“ Maka beliau ditanya, “Siapa ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Yaitu orang yang mendapati otangtuanya telah renta lanjut usia, salah satu atau keduanya kemudian dia tidak masuk surga.” Imam Qurtubi berkata, doa ini adalah penegas bagi siapa saja yang jarang berbakti kepada kedua orang tuanya
(صحيح مسلم، كتاب البر والصلة، باب رغم أنف من أدرك أبويه أو أحدهما عند الكبر فلم يدخل الجنة، 4 / 1978، برقم 2551.)
Berbakti kepada kedua orang tua merupakan sifat baarizah (yang menonjol) dari para Nabi
Dalam beberapa ayat dalam Al Qur’an, Allah menjelaskan beberapa bentuk bakti para Nabi kepada orang tua mereka, di antaranya :
"Artinya : Dan Allah memerintahkan aku berbakti kepada ibuku dan tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka" [Maryam : 32]
Kemudian Allah berfirman di dalam surat Ibrahim ayat 41
"Artinya : Wahai Rabb kami, berikanlah ampunan untukku dan kedua orang tuaku. Dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab" [Ibrahim : 41]
"Artinya : Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat" [Asy-Syua'araa : 86]
"Artinya : Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, bukanlah ia termasuk orang-orang yang sombong lagi durhaka" [Maryam : 14]
Kemudian dalam An-Naml ayat 19 tentang Nabi Sulaiman 'Alaihis salam.
"Artinya : Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo'a, "Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridlai dan masukanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih" [An-Naml : 19]
Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua merupakan sifat yang menonjol bagi para nabi. Semua nabi berbakti kepada kedua orang tua mereka. Dan ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua adalah syariat yang umum. Setiap nabi dan rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala ke muka bumi selain diperintahkan untuk menyeru umatnya agar berbakti kepada Allah, metauhidkan Allah dan menjauhkan segala macam perbuatan syirik juga diperintahkan untuk menyeru umatnya agar berbakti kepada kedua orang tuanya.
Bila diperhatikan bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua seperti tercantum dalam surat An-Nisaa, surat Al-Isra dan surat-surat yang lainnya menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah masalah kedua setelah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kalau selama ini yang dikaji adalah masalah tauhid, masalah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, aqidah Salaf, untuk selanjutnya wajib pula bagi setiap muslim dan muslimah untuk mengkaji masalah berbakti kepada kedua orang tua. Tidak boleh terjadi bagi seorang yang bertauhid kepada Allah tetapi ia durhaka kepada kedua orang tuanya, wal iyadzubillah nas alullaha salamah wal 'afiyah. Bagi seorang muslim terutama bagi seorang thalibul 'ilm (penuntut ilmu), wajib baginya berbakti kepada kedua orang tuanya.
Di dalam ayat-ayat Al-Qur'an ketika disebutkan tentang bertauhid kepada Allah selalu diiringi dengan berbakti kepada kedua orang tua. Para ulama telah menjelaskan hikmah dari permasalahan ini, yaitu :
Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menciptakan dan Allah yang memberikan rizki, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala sajalah yan berhak untuk diibadahi. Sedangkan kedua orang tua adalah sebab adanya anak, maka keduanya berhak untuk diperlakukan dengan baik. Oleh karena itu kewajiban seorang anak untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala harus diiringi dengan berbakti kepada kedua orang tuanya.
Allah lah yang telah memberikan semua nikmat yang diperoleh hamba-hambaNya, maka hanya Allah Subhanahu wa Ta'ala saja yang wajib di syukuri. Kemudian kedua orang tua lah yang telah memberikan segala yang kita butuhkan seperti makan, minum, pakaian dan yang lainnya sehingga wajib bagi kita untuk berterima kasih kepada keduanya. Oleh karena itu kewajiban seorang anak atas nikmat yang diterimanya adalah bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan bersyukur kepada kedua orang tuanya.
Allah adalah Rabb manusia yang membina dan mendidik manusia di atas manhaj-Nya, maka Allah lah yang berhak untuk diagungkan dan dicintai. Demikian juga kedua orang tua yang telah mendidik kita sejak kecil, maka kita harus bersikap tawadlu' (merendahkan diri), tauqiir (menghormati), ta'addub (beradab) dan talattuf (berlaku lemah lembut) dengan perkataan dan perbuatan kepada keduanya.

Allah telah mengkhususkan keadaan orang tua yang telah memasuki masa lansia dengan memerintahkan kita supaya giat berbuat kebaikan, bersikap lembut, kasih sayang. Karena keadaan mereka membutuhkan kebaikan untuk merubah keadaan mereka yang lemah dan tua. Maka Allah melazimkan keadaan ini lebih banyak dari apa apa yang telah Dia lazimkan sebelumnya. Karena orang tua berada pada keadaan dimana mereka seperti anak kecil. Allah memerintahkan untuk menemui mereka dengan ucapan mulia dan tidak tercela. Al isra’ ayat 23. Allah memerintahkan untuk merendahkan diri kepada mereka dengan penuh kasih sayang dalam rangka mencari pahala Allah bukan karena takut kepada keduanya. Allah juga memerintahkan untuk mendoakan mereka agar mendapatkan rahmat baik saat mereka masih hidup ataupun sudah meninggal, sebagai balasan atas pembimbingan mereka dan kebaikan mereka. Dari Abu hurairah berkata, bersabda Rasulullah SAW, “Seorang anak tidak dapat membalas kebaikan orang tua kecuali bila orang tua adlah budak maka dia membeli dan membebaskannya.”
Referensi :
Fathul Baari
Jaami’ul Ahkam Al Qur’an Al Qurthubi
Tafsir As Sa’di
Read more
Posted by UKM Al-Islam 0 Comments Category: ,

MENGERASKAN BACAAN DALAM SHOLAT SUBUH DAN MEMBACA UNTUK JIN



MENGERASKAN BACAAN DALAM SHOLAT SUBUH DAN MEMBACA UNTUK JIN
Oleh : Andi, Indra, Obey

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ خَالِدٍ عَنْ أَبِي مَعْشَرٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ لَمْ أَكُنْ لَيْلَةَ الْجِنِّ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ مَعَهُ
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Khalid bin Abdullah dari Khalid dari Abu Ma'syar dari Ibrahim dari 'Alqamah dari Abdullah dia berkata, "Tidaklah aku berada pada malam jin (waktu belajarnya para jin) bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (melainkan) aku pasti ingin bersama beliau."
Takhrij hadits
1.      Shahih Muslim (kitab Sembilan) hadits nomer 683
2.      Fathul mun’im syarhu shohih muslim nomer 824, juz 2, hal 623
3.      penjelasan hadits dibawah ini dinukil dari hadits sebelumnya yang senada. Yaitu hadits nomer 819 dalam kitab Fathul mun’im syarhu shohih muslim
Biografi Rawi a’la ; Abdullah bin Mas’ud
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil al-Hudzali. Nama julukannya “Abu Abdirahman”. Ia sahabat ke enam yang paling dahulu masuk islam. Ia hijrah ke Habasyah dua kali, dan mengikut semua peperangan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Dalam perang Badar, Ia berhasil membunuh Abu Jahal.
Menurut para ahli hadits, kalau disebutkan “Abdullah” saja, yang dimaksudkan adalah Abdullah bin Mas’ud ini. Sanad paling shahih yang bersumber dari padanya ialah yang diriwayatkan oleh Suyan ats-Tsauri, dari Mansyur bin al-Mu’tamir, dari Ibrahi, dari alqamah. Sedangkan yang paling dlaif adalah yang diriwayatkan oleh Syuraik dari Abi Fazarah dari Abu Said. Ia meriwayatkan hadits dari Umar dan Sa’ad bin Mu’adz. Yang meriwayatkan hadits darinya adalah Al-Abadillah (“Empat orang yang bernama Abdullah”), Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, Abu Musa al-Asy’ari, Alqamah, Masruq, Syuraih al-Qadli, dan beberapa yang lain. Jumlah hadits yang ia riwayatkan mencapai 848 hadits.

Dalam soal harta, ia tak punya apa-apa, tentang perawakan ia kecil dan kurus, apalagi dalam seal pengaruh, maka derajatnya jauh di bawah ….Tapi sebagai ganti dari kemiskinannya itu, Islam telah memberinya bagian yang melimpah dan perolehan yang cukup dari pebendaharaan Kisra dan simpanan Kaisar. Dan sebagai imbalan dari tubuh yang kurus dan jasmani yang lemah, dianugerahi-Nya kemauan baja yang dapat menundukkan para adikara dan ikut mengambil bagian dalam merubah jalan sejarah. Dan untuk mengimbangi nasibnya yang tersia terlunta-lunta, Islam telah melimpahinya ilmu pengetahuan, kemuliaan serta ketetapan, yang menampilkannya sebagai salah seorang tokoh terkemuka dalam sejarah kemanusiaan.
Sungguh, tidak meleset kiranya pandangan jauh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau mengatakan kepadanya : “Kamu akan menjadi seorang pemuda terpelajar”. Ia telah diberi pelajaran oleh Tuhannya hingga menjadi faqih atau ahli hukum ummat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan tulang punggung para huffadh al-Quranul Karim .
Dan bukan hanya keunggulannya dalam al-Quran dan ilmu fiqih saja yang patut beroleh pujian, tetapi juga keunggulannya dalam keshalihan dan ketaqwaan. Beliau datang ke Medinah dan sakit disana kemudian wafat pada tahun 32 H dan dimakamkan di Baqi, Utsman bin ‘Affan ikut menshalatkannya.
Pendahuluan
            Jin adalah salah satu makhluk ciptaan Allah, mereka dapat melihat kita sedangkan kita tidak dapat melihat mereka. Di antara mereka ada yang muslim dan adil, ada juga yang membuat kerusakan di bumi. Iblis dan keturunannya memusuhi Adam dan selalu berusaha membawa mereka dalam kesesatan. Di antara trick mereka adalah dengan naik ke langit, berusaha mencuri dengar percakapan malaikat tentang urusan yang diberikan kepada mereka. Kemudian turun ke bumi dan membawa berita ghaib tersebut dan mencampur dengan berita berita dusta serta memberitahukannya kepada para dukun.
            Kemudian Allah mengutus Muhammad sebagai Nabi, sekaligus sebagai senjata dan perlindungan dari usaha kotor syaithon yang terkutuk dari mencuri kabar dari langit. Begitulah mereka selalu berusaha untuk menembus langit namun yang mereka dapati adalah rapatnya langit dengan penjaga dan adanya bintang yang akan dilemparkan kepada mereka. (Al Qur’an surat Al Jin ayat 8-9)
            Suatu ketika, Rasulullah melasanakan sholat subuh bersama sahabat sahabatnya di lembah Nakhlah antara Makkah dan Thoif. Beliau membaca Al Qur’an dan mengeraskan suaranya. Ternyata ada sekelompok jin yang mendengarkan bacaan beliau, mereka mendengarkan dengan baik baik dan seksama, mereka mengetahui banyak yang terkandung dalam Taurat dan Injil juga keistimewaan kalamullah. Maka sungguh apa yang mereka dengar pada hari itu bukanlah ucapan manusia, maka kemudian mereka beriman dengan kalamullah tersebut. (Al Ahqof 29-31) maka Allah menurunkan ayat kepada Nabi-Nya surat Al Jin ayat 1-2 untuk memberitahukan bahwa jin mendengar bacaan Qur’n nya.
Imam Muslim, menjelaskan bahwa hadits ini dimaksudkan sebagai pengambilan dalil untuk mengeraskan bacaan pada sholat shubuh, berdasarkan bahwa jin mendengarkan bacaan Rasul saat beliau melaksanakan sholat shubuh.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Nabi bersabda,”Aku diperintahkan untuk membacakan Al Qur’an kepada bangsa jin, siapakah di antara kalian yang hendak ikut bersamaku?” Maka para sahabat diam, Rasul bertanya kedua kalinya, mereka tetap diam, dan Rasul bertanya ketiga kalinya, maka Ibn Mas’ud berkata,”Aku berangkat bersamamu wahai Rasul.”  Maka bergegaslah hingga sampai di Jahun, dekat kaum Abu Dab yang di dalamnya terdapat makam ibunda Nabi Aminah binti Wahab. Rasul mendahuluiku satu langkah dan berkata, “jangan kau langkahi itu(kubur Ibu)!” kemudian beranjak menuju Jahun, maka beliau berjalan jinjit pada dataran landai. Mereka berhati hati terhadap batu batu di kaki mereka, berjalan sambil memukul rebana sebagaimanan wanita memukul rebana mereka. Sampai pada akhirnya mereka menghilang dan aku tidak melihatnya. Maka aku berdiri, dan beliau member isyarat dengan tangnnya agar aku duduk dan kemudian beliau membaca Al Qur’an. Suara beliau tetap nyaring, hingga mereka menempel pada bumi sampai aku tidak melihat mereka. Rasul bersabda,”apakah engkau ingin kemari?” “ya wahai rasul.” “mereka adalah jin yang dating untuk mendengarkan Al Qur’an, kemudian kembali kepada kaumnya untuk memberikan peringatan. Mereka meminta bekal, maka aku membekali mereka dengan tulang dan kotoran.
Pada saat shalat subuh, Rasulullah tidak memaksudkan bacaan Qur’an yang beliau keraskan untuk diperdengarkan kepada bangsa Jin, dan beliau tidak mengetahui bila bangsa jin me’ndengarkannya sebelum Allah memberitahukan hal tersebut.  Dan pada kesempatan berikutnya, Rasul menyengaja mendatangi mereka untuk membaca Al Qur’an. Rasul mengetahui mereka, mereka bertanya kepada beliau dan beliau menjawabnya.
Bangsa Jin datang dua kali menghadap Nabi Muhammad. Yang pertama di Makkah sebagaimana disebutkan ibn Mas’ud, yang kedua di Nakhlakh sebagaimana disebutkan Ibn Abbas. Ada beberapa hal menarik yang berkaitan dengan jin yang layak kita ketahui.
1.      Kebanyakan ahli filsafat, orang orang zindik, Qodariyah mengingkari keberadaan mereka. Sebagian mereka mengakui keberadaan mereka pada zaman dahulu, namun mengingkari keberadaannya pada saat ini. Sebagian yang lain mengakui keberadaan mereka namun menolak tentang adanya hubungan jin dengan manusia, pengaruhnya, dan gangguan bangsa jin kepada manusia. Namun kalangan Ahlu sunnah mengakui akan keberadaan mereka juga korelasinya dengan manusia.
2.      Terdapat perbedaan pandangan mengenai asalnya. Katanya, asalnya adalah anak iblis, yang kafir disebut syaiton, dan yang selainnya bukan syaithon. Allah menciptakan jin 2 ribu tahun sebelum Adam. Jin sebagai penghuni bumi, dan malaikat menghuni langit. Semua perkataan ini bersumber dari cerita isroiliyyat yang tidak dapat dijadikan sandaran
3.      Mengenai ciri ciri jin, Abu ya’la bin al Fara menyebutkan bahwa bangsa jin memiliki tubuh yang tersusun, kepribadian yang bermacam macam, bias lemah lembut, bias juga kasar. Imam Syafi’I berkata,”barangsiapa berasumsi bahwa dia menyaksikan jin, maka menurut kami, dia telah batal syahadatnya, kecuali para Nabi. Dan barangsiapa berasumsi melihat sesuatu dari mereka setelah berubah wujud, maka dia tidak tercela. Karena telah banyak berita tentang perubahan mereka kedalam wujud wujud tertentu.
4.      Bangsa jin juga makan dan minum, jin beriman makan tulang yang telah dibacakan nama Allah. Dan jin kafir memakan selain itu. Dan mereka juga menikah sebagaimana firman Allah dalam Surat Ar Rahman 56 dan Al Kahfi 50
5.      Bangsa Jin juga terkena taklif. Mereka terkena taklif dalam bidang tauhid dan rukun Islam. Adapun pada perkara perkara cabang, terdapat perselisihan pendapat di dalamnya.
6.      Tentang nabi dari bangsa jin, dapat ditelaah ayat al Qur’an dalam Surat Al An’am 130. Jumhur ulama’ menyebutkan bahwa pengertian Rusul dalam ayat tersebut adalah, Rasul dari bangsa manusia adalah Rasul dari sisi Allah. Adapun Rasul bangsa jin menurut jumhur ulama’ adalah rasul yang diutus Allah di bumi untuk mendengarkan ucapan Rasul bangsa manusia untuk kemudian disampaikan kepada kaumnya. Ibnu Hajar menetapkan hal itu dengan hadits yang jelas, “Adapun para Nabi diutus kepada kaumnya saja, maka aku diutus kepada bangsa manusia dan jin.”
7.      Dan apakah mereka juga mendapatkan balasan yang baik? Jumhur berpendapat bahwasannya mereka juga mendapatkan pahala atas amal kebaikan mereka. Adapun dalil yang menunjukkan bahwa mereka juga masuk surga di antaranya ; Al Ahqof 18, 19
8.      Bangsa jin, mencoba mencuri berita dari langit. Adapun penjagaan langit telah ada sebelum pengutusan Nabi Muhammad. Keberadaan meteor yang Nampak, tentu ada sebabnya, akan tetapi penggunaannya untuk melempar syaithon dan membakarnya belum terjadi sebelum pengutusan Nabi Muhammad. Ibnu Abbas berkata,”Dahulu syaithon tidak dihalangi untuk mencapai langit, ketika Nabi Isa lahir, sepertiga langit terhalang untuk mereka. Dan ketika Nabi kita Nabi Muhammad lahir, seluruh langit terhalang untuk mereka.
9.      Ringkasnya, penjagaan langit dan bintang yang dilemparkan belum benar benar diterapkan sebelum diutusnya Nabi Muhammad. Meteor pun belum digunakan keculai untuk perkara yang besar. Bilapun digunakan, frekuensinya rendah dan penggunaan meteor yang dibakar adalah setelah nubuwah.
10.  Penulis, Imam Muslim menyebutkan bahwa dirinya tidak dapat memutuskan hal hal tersebut di atas dengan akalnya, sedangkan perkara ghaib dan ta’wil adalah hal yang enak untuk diperbincangkan. Wallahu a’lam
11.  Bangsa jin beriman ketika mendengar bacaan Al Qur’an, maka bagi siapa saja yang beriman saat mendengarnya agar mengetahui kebenaran mu’jizatnya.
12.  Bagi iblis, golongan yang beriman hanya karena mendengar al Qur’an adalah golonganyang berada pada kedudukan paling buruk. Semisal kisah penyihir fir’aun
Tema dakwah
1.      Tauhid, perkara pokok yang senantiasa harus didakwahkan
2.      Dakwah kepada bangsa jin, satu yang paling mungkin dan secure adalah dengan nyaring membaca ayat al Qur’an
3.      Di antara adab sebelum makan adalah membaca bismillah
4.      Urgensi ilmu, masalah ghaibiyah adalah perkara yang mebutuhkan rujukan dalil yang kuat bila hendak memperbincangkannya. Hindari menggunakan asas menduga duga dalam hal ini.
Metode dakwah
Terdapat beberapa metode dakwah yang terkandung dalam hadits ini, juga hadits yang senada dengannya. Di antaranya ;
1.      Vocal, dengan membacakan ayat Al Qur’an. Terlepasa dari fakta bahwa Al Qur’an adalah mu’jizat terbesar, membacanya dengan jahr atau dengan mengeraskan suara adalah bentuk dari menyeru kepada bangsa jin.
2.      Offering, atau menawarkan sesuatu kepada objek dakwah. Dalam beberapa aspek kehidupan, ada hal hal kecil yang bersifat ringan namun esensinya agung, mudah diterima bila didakwahkan dengan cara ini. Sebagaimana tawaran Nabi kepada sahabatnya untuk menemani membaca Al Qur’an untuk bangsa jin. Dan sudah lazim bila penawaran tidak cukup berhasil bila dlakukan hanya sekali. Perlu beberapa kali untuk meyakinkan objek dakwah untuk menerima tawaran tersebut.
3.      Discuss, berbincang bincang. Ada beberapa hal yang akhirnya diketahui Nabi mengenai detail kecil bangsa jin, dan bangsa jin ketahui dari banyak hal yang mereka dapatkan dari bincang bincang dengan Nabi Muhammad. Maka perlu bagi para juru dakwah untuk menjalin keakraban dengan para objek dakwah dalam obrolan santai yang insya Allah dapat memudahkan mereka menyampaikan problema yang mereka alami untuk mendapatkan way out atau solusi tepat sesuai Qur’an dan sunnah. Yang mana problem tersebut, enggan atau tidak mungkin mereka ungkap dalam forum forum dakwah resmi.
Karasteristik  da’i
1.      Responsible, bertanggung jawab atas objek dakwahnya. Rasul mencontohkan bahwa beliau menjalankan mandate yang diberikan kepada beliau sebagai rasul bagi seluruh alam, bagai bangsa manusia, juga jin.
2.      Care, pengertian. Rasul memilih untuk melakukan penawaran kepada para sahabat untuk menemaninya. Beliau lakukan karena beliau ngerti keadaan dan kesibukan para sahabat. Oleh karena itu beliau tidak memaksakan dengan perintah dan titahnya, walaupun segala yang diperintahakan oleh Nabi, toh para sahabat akan meng iya kan dengan sepenuh hati dan tanggung jawab total.
3.      Fair and equitable, adil. Itulah karakter mulia yang Nabi ajarkan kepada umatnya. Saat beliau memberikan penawaran, beliau tidak memaksa. Saat yang menerima tawaran hanya seorang jua, Nabi kemudian tidak menggerutu, menampakkan aksen kesal kepada sahabat lainnya atau bahkan menyakiti perasaan mereka dengan ungkapan miring menyindir atau menabrak dengan menyebut nyebut pemberian dan jasa. Karena sifat penawaran adalah “yang mau saja”. Cukuplah penyesalan bagi orang yang enggan sebagai hukuman abstrak atas amal sholih yang terlewat percuma, tidak perlu ada komentar terlebih cacian.
4.      Curious, ingin tahu. Yang menjadikan manusia punya hasrat untuk survive adalah adanya rasa ingin tahu. Bagi seorang da’I, rasa ingi tahu yang kuat akan sangat membantu dakwahnya di samping juga memperluas wawasannya. Hal itu telah dicontohkan ibnu mas’ud dengan keikutsertaannya menemani nabi berdakwah kepada bangsa jin. Kondisi ini juga menunjukkan bahwa da’I harus selalu punya semangat untuk maju, to be better than anyone else.
5.      Enthusiasm,  ketertarikan yang kuat dalam ilmu pengetahuan islam, satu sisi penting dari banyak aspek yang sudah selayaknya dimiliki da’i. bangsa jin saja bersemangat mencari kebenaran, maka sudah selayaknya para dai untuk lebih bersemangat karena posisinya sebagai pembawa kebenaran.
6.      Jujur, baik hati dan tidak sombong, tidak boros serta suka menolong
Sebagai epilog, ada baiknya bila berisi seruan untuk senantiasa bertaqwa dan bertawakkal kepada Allah. Menambah semangat dalam menuntu ilmu dan mengamalkannya. Serta menambah kepekaan dan tanggung jawab dalam mendakwahkan Islam dan ajarannya kepada seluruh alam. Meliputi bangsa manusia dengan menerapkan metode yang beragam dan selalu berkembang, dan kepada bangsa jin dengan metode yang ada dengan tetap sesuai dengan yang digariskan Allah dan Rasul Nya serta senantiasa memohon taufiq, perlindungan dan pertolongan-Nya. Wallahu a’lam bish showab.

Referensi
1.      Fathul Mun’im syarhu Shohih Muslim, DR Musa Syahin
2.      Jami’ul bayan fii Ta’wiilil Qur’an, Abu Ja’far Ath Thobari
3.      Al-Ishabah: Ibn Hajar Asqalani no.4945.
Read more

Minggu, 25 November 2012

Posted by UKM Al-Islam 0 Comments Category:

Contoh Hadist Matruk


Contoh Hadist Matruk
Yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dari jalan Juwaibir bin Sa’id al-Azdi dari ad-Dhahhak dari Ibnu Abbas dari Nabi Sallallahu ‘Alahi Wasallam bahwa beliau bersabda :

7500- عليكم باصطناع المعروف فإنه يمنع مصارع السوء و عليكم بصدقة السر فإنها تطفئ غضب الرب عز و جل[1]
 ( ابن أبي الدنيا في قضاء الحوائج ) عن ابن عباس .

“Hendaklah kalian selalu berbuat ma’ruf (baik), karena itu akan menahan keburukan dan hendaklah kalian bershodaqoh dengan cara sembunyi karena hal itu dapat memadamkan kemarahan Rabb (Tuhan) ‘Azza Wajalla”[2]
Hadits dengan sanad ini di dalamnya terdapat Juwaibir bin Sa’id al-Azdi yang mana imam Nasa’i, Daruquthni dan yang lainnya mengatakan bahwa dia matrukul hadits. Namun matan hadits tersebut adalah shahih, bila dilihat dari sanad yang lain.
2.  Contoh Hadist Maudhu
عليكم بالوجوه الملاح والحدق السود؛ فإن الله يستحيـي أن يُعذب وجهاً مليحاً بالنار "
قال ابن عراق في (تنـزيه الشريعة المرفوعة عن الأخبار الشنيعة الموضوعة)[3] : "أخرجه ابن عدي من حديث أنس، وفيه الحسن بن علي العدوي، قال السيوطي: وتابعه كذاب مثله، وهو لاحق بن الحسين، أخرجه الشيرازي في الألقاب. وقال: وروى الديلمي عن أنس مرفوعاً: إن الله لا يعذب حسان الوجوه سود الحدق، قلت: في سنده جعفر بن أحمد الدقاق، وهو آفته فيما أظن، والله أعلم"

Contoh Hadist Mungkar
حَدَّثَنَا النَّضْرُ بْنُ شَيْبَانَ، قَالَ: قُلْتُ لِأَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، حَدِّثْنِي بِشَيْءٍ سَمِعْتَهُ مِنْ أَبِيكَ سَمِعَهُ أَبُوكَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لَيْسَ بَيْنَ أَبِيكَ وَبَيْنَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدٌ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، قَالَ: نَعَمْ، حَدَّثَنِي أَبِي، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَرَضَ صِيَامَ رَمَضَانَ عَلَيْكُمْ، وَسَنَنْتُ لَكُمْ قِيَامَهُ، فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
Telah menceritakan kepada kami an-Nadlr bin Syaiban, ia berkata: Aku berkata kepada Abu Salamah bin Abdurrahman, Ceritakan kepadaku hadits yang engkau dengar dari ayahmu, yang telah dia dengar dari Rasulullah saw secara langsung, yang tidak ada orang lain di antara ayahmu dengan Rasulullah saw pada bulan Ramadhan; Ia menjawab, Ya, telah menceritakan kepadaku ayahku, Rasulullah saw bersabda” ((Sesungguhnya Allah azza wa jalla mewajibkn kalian berpuasa pada bulan Ramadhan, dan aku sunnahkan bagi kalian qiyam pada malam harinya. Maka barangsiapa yang berpuasa, dan mendirikan dengan penuh keimanan dan perhitungan, maka akan keluar darinya dosa-dosa seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya))[4]
Pada sanad ini ada rawi yang bernama Nadlr bin Syaiban. Dia adalah rawi yang dla’if. Dalam periwayatan hadits ini pun terjadi kesalahan, yaitu ketika ia meriwayatkan hadits dari Abu Salamah dengan ungkapan bahwa Abu Salamah mengatakan, “Ayahku telah menceritakan kepadaku …”
Para ahli hadits menyatakan bahwa Abu Salamah tidak pernah mendengarkan hadits dari ayahnya. Inilah segi kemunkaran yang pertama.
Yang kedua, hadits seperti itu telah diriwayatkan oleh rijal lainnya yang siqah (terpercaya) hafidz (banyak hafalan) atsbat (paling teguh), seperti Yahya bin Sa’id, az-Zuhri, Yahya bin Abi Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah secara marfu’ dengan teks;
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan keimanan dan perhitungan maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu, dan barangsiapa yang berdiri (untuk shalat malam) pada malam lailatul qadr dengan keimanan dan perhitungan maka Akan diampuni dosanya yang telah lalu
Dengan demikian An-Nadlr bin Syaiban menyelisihi rijal yang lebih terpercaya dan lebih banyak sanad hadits dan matannya. Dan hadits dari jalannya adalah munkar.
Oleh :
Handaris S
Hendri Wibowo
Dedi Sulaiman
Indra Fernando
Andi Maulana



[1] قال الشيخ الألباني : ( صحيح ) انظر حديث رقم : 4052 في صحيح الجامع.


[3] . تنـزيه الشريعة (1/1).
[4] . Imam Ahmad (1/191,195), Bukhari dalam at-Tarikh al-Kabir (4/2/88) an-Nasa’I (4/158), Ibnu Majah (1321) al-Bazzar di dalam Musnad, Ibnu Syahin di dalam Fadla-il Syahr Ramadhan (28)
Read more